Complain sepertinya sudah jadi makanan sehari-hari, apalagi kalau kerja di bidang industri jasa, alias kasih service ke client. Client adalah raja, jadi nggak heran kalau mereka kadang semena-mena. Most of my clients are really nice and sweet, respectful, friendly, understanding, walaupun tetap demanding. Tapi client juga manusia, yang punya rasa dan punya jiwa, punya amarah dan nestapa. Walhasil, ada kala mereka tiba-tiba murka, sewot, melontarkan kalimat pedas. Perfect combination with my nature of unconfidence, saat mereka murka maka semua track record di masa lalu langsung terbang kebawa angin, hilang tak berbekas.
Efek buruknya, aku jadi lebih gampang juga complain ke orang lain. In my mind, kalau si client aja bisa marahin gue gara-gara hal kecil kayak gini, gue juga bisa dong marah ke si anu gara-gara hal sepele juga, walaupun gue bukan clientnya. Kalo gue bisa survive dengan perlakuan buruk orang lain, orang lain juga harus bisa survive dengan perlakuan buruk gue, yang kayanya nggak sering-sering juga.
Tapi lama-lama, ga ada bedanya aku sama client dong, semena-mena. Dan kayaknya capek aja dengerin aku sendiri cerita hal-hal jelek dan negatif terus tentang client, tentang kerjaan, tentang segala macem, kayak radio rusak, keep repeated itself. Apalagi yang dengerin adalah orang yang sama, the one I hope to be the last one for the rest of my life.
Gosh, I can't even imagine living with a complainer for the rest of my life, apalagi dia...